I Like A Beautiful Life

We Will Never Know, Before We Do So. Remember One Thing, The Work We Do Will Be Worth It.

Sexy Girl in World

When We Are Already One Of The Majors, Does Not Mean We Should Be One Of The Future.

How Much Sexy Girl In World

Never Underestimate Yourself. If You Are Unhappy With Your Life, Fix What's Wrong, And Keep Stepping.

Good Looking

If You Can Not Be Intelligent, Be a Good Person.

Can You Get What You Want

Most Millionaires Get a B or C on Campus. They Build Wealth Not Of IQ Alone, But Creativity and Common Sense.

Jumat, 19 Mei 2017

" Untuk Mengetahui Cara Referensi Seks Bukan Dari Film Porno "


Lumrah bagi pasangan baru menikah giat mencari referensi posisi seks. Diantara sekian banyaknya pilihan, sebaiknya tidak menjadikan film porno sebagai acuan.

"Kalau pakai film porno nanti malah saat bercinta yang kebayang pemeran yang ada di film porno itu," kata psikolog Jovita Ferliana usai peluncuran kondom Durex Invisible di Jakarta.

Selain itu, banyak juga adegan dalam film porno yang tidak pas dalam kehidupan nyata. Mulai dari tubuh yang nampak sempurna hingga orgasme setiap kali bercinta.

Lebih baik mencari referensi seks dan posisi seks dari buku atau video atau media edukasi seks dari sumber terpercaya. Seperti edukasi seks yang diberikan oleh terapis seks atau pakar hubungan.

Namun, bukan berarti pasangan suami istri pantang menonton film porno. "Boleh-boleh saja tapi berdua. Dan hanya beberapa bulan sekali," kata Jovita.

Dengan informasi yang beragam soal posisi seks, membuat pasangan suami istri bisa menjajal puluhan variasi posisi seks. Sehingga bisa meminimalisir rasa bosan dalam hubungan seksual. Hubungan yang tercipta pun jadi lebih intim dan berkualitas.
Share:

Minggu, 14 Mei 2017

" Besar Sekali Tongkat Pak Satpam "


Kali ini aku diminta salah satu pembacaku untuk menuliskan pengalamannya yang ia kisahkan melalui e-mail dan SMS. Nah beginilah kisah selengkapnya yang merupakan petualangan penutur.

Cerita berawal setelah terjebak dalam pusaran gairah seorang pengojek di kepulauan di Sumatra saat ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMN. Bagi yang belum pernah membaca akan saya perkenalkan lagi diri saya, nama saya Reni (samaran), saat ini usia 28 tahun. Kata orang saya memiliki segalanya baik itu kekayaan, kecantikan dan keindahan tubuh yang menjadi idaman setiap wanita. Dengan tinggi 165 cm dan berat 51 kg menjadikanku memiliki pesona bagi lelaki mana saja. Apalagi wajahku boleh dibilang cantik dengan kulit kuning langsat dan rambut sebahu. Aku telah menikah setahun lebih.

Latar belakang keluargaku adalah dari keluarga Minang yang terpandang. Sedangkan suamiku, sebut saja Ikhsan adalah seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang.

Setelah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, aku mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Padang agar dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Setelah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini akhirnya aku bisa pindah di kantor pusat di Kota Padang. Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu harus pakai uang. Malahan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar, dari makan hingga buang kotoran. Mungkin hanya kentut saja yang belum perlu pakai uang. (Mungkin kalau sudah ada Undang Undang Lingkungan, kentut pun musti bayar karena mencemari udara.. Ya nggakk??)

Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini adalah sebagai kepala bagian. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini. Sebagai konsekwensinya aku harus rela bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda saat aku bertugas di kepulauan dahulu. Hal ini membuatku harus selalu pulang larut malam karena jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku. Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami hanya bertemu saat menjelang tidur dan saat sarapan pagi.

Atas kebijakan pimpinan, aku selalu dikawal satpam jika hendak pulang. Sebut saja namanya Pak Marsan, satpam yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman sampai ke rumah. Dengan demikian aku selalu merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun karena pulangnya selalu diantar. Tak jarang aku memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya.

Pak Marsan adalah lelaki berusia 35 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa. Ia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta. Ia sudah menjadi satpam di bank tempat saya bekerja selama 8 tahun. Ia sudah beristri yang sama-sama berasal dari Jawa. Akupun sudah kenal dengan istrinya, Yu Sarni.

Suatu hari, saat aku selesai lembur. Aku kaget saat yang mengantarku bukan Pak Marsan, tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.

"Lho Pak Marsan di mana Bang?" tanyaku pada satpam yang mengantarku.
"Anu Bu, Pak Marsan hari ini minta ijin tidak masuk katanya istrinya melahirkan" katanya dengan sopan.

Akhirnya aku tahu kalau yang mengantarku adalah Pak Sardjo, satpam yang biasanya masuk pagi.

"Kapan istrinya melahirkan?" tanyaku lagi.
"Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu" jawabnya.

Akhirnya hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Sardjo.


Awal Perselingkuhan

Sudah dua hari aku selalu dikawal Pak Sardjo karena Pak Marsan tidak masuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk istri Pak Marsan di Rumah Sakit Umum. Akhirnya aku mengetahui kalau Yu Sarni mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding. Dengan kondisinya itu ia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan setelah post partum. Atas saran suamiku aku ikut membantu biaya perawatan istri Pak Marsan, dengan pertimbangan selama ini Pak Marsan telah setia mengawalku setiap pulang kerja.

Sejak saat itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Marsan seperti layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Sarni mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya tidak seberapa, tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu. Ya, rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun. Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil karena memang rumahnya di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa. Karena seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan sudah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Marsan.

Suatu hari, saat aku pulang lembur, seperti biasa aku diantar Pak Marsan. Begitu sampai ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Marsan untuk menunggu hujan reda. Aku suruh pembantuku, Mbok Rasmi yang sudah tua untuk membuatkan kopi baginya. Sementara Pak Marsan menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.

Hujan tidak kunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Marsan masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang memandangi hujan. Hanya dengan mengenakan baju tidur aku ikut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian dengan suamiku agar enak menikmati suasana.

"Gimana sekarang punya anak Pak? Bahagia kan?" tanyaku membuka percakapan.
"Yach.. Bahagia sekali Bu..! Habis dulu istri saya pernah keguguran saat kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang tak terhingga buat saya Bu.."
"Memang Pak.. Aku sendiri sebenarnya sudah ingin punya anak, tetapi.."

Aku tidak dapat meneruskan kata-kataku karena jengah juga membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain.

"Tetapi kenapa Bu.. Ibu kan sudah punya segalanya.. Mobil ada.. Rumah juga sudah ada.. Apa lagi" Timpalnya seolah-olah ikut prihatin.
"Yach.. Itu lah Pak.. Dari materi memang kami tidak kekurangan, tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Sarni lebih bahagia"
"Mm maksud ibu.." tanyanya terheran-heran.
"Itu lho Pak.. Pak Marsan kan tahu kalau saya selalu kerja sampai malam sedangkan Bang Ikhsan juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang bisa berkumpul setiap hari. Sekarang aja Bang Ikhsan sedang tugas ke Jakarta sudah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Padang"
"Yachh.. Memang itulah rahasia kehidupan Bu.. Kami yang orang kecil seperti ini selalu kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi.. Sedangkan keluarga ibu yang tidak kekurangan materi malah bingung tidak dapat kumpul"

Matanya sempat melirikku yang saat itu mengenakan pakaian baby doll. Kulihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku. Mungkin karena hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit.

Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka sedikit.

"Sebentar Pak saya ambil minuman dulu" kataku sambil bangkit dan berjalan masuk.

Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan saat itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku.

"Oh ya Pak Marsan masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar dingin.."
"I.. Iya Bu.." jawab Pak Marsan agak tergagap karena lamunannya terputus oleh undanganku tadi. Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu ia tentu sudah lama tidak menyentuh istrinya sejak melahirkan bulan kemarin, karena usia kelahiran bayinya belum genap 40 hari.

Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus mampu menundukannya. Pak Marsan sangat terangsang melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Akhirnya mungkin karena tidak tahan atau karena udara dingin ia minta ijin untuk ke kamar kecil.

"Eh.. Anu Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu"
"Silahkan Pak.. Pakai yang di dalam saja"
"Ah.. Enggak Bu saya enggak berani"
"Enggak apa-apa.. Itu Pak Marsan masuk aja nanti dekat ruang tengah itu"
"Baik Bu.."

Sambil berdiri ia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang selalu dibawa-bawanya saat berjaga.. Atau bahkan mungkin lebih besar lagi.

Agak ragu-ragu ia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Akhirnya kutunjukkan kamar kecil yang bisa dipakainya. Begitu ia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.

Aku terkejut saat aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku karena kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Marsan yang kukira tidak mempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai sudah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.

"Ma.. Maaf Bu, sa.. Saya sudah tidak tahan.." desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.

Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.

"Pak Marsan.. Apa-apaan ini.." suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Marsan yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.
"Ma.. Af Bu sa.. Saya.. Sudah tidak tahan lagi.." diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun tipisku.

Perlawananku semakin melemah karena terkalahkan oleh desakan nafsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Marsan yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.
Share:

Kamis, 11 Mei 2017

" Piknik Yang Penuh Sensasi "


Sekilas perkenalan diri saya, saya laki-laki berusia 26 tahun kerja di salah satu perusahaan swasta nasional dengan tinggi sekitar 160 cm (termasuk pendek) dan dengan bentuk tubuh yang kurus. Walaupun nafsu makan saya lumayan besar tetapi tetap saja tubuh saya tidak gemuk dan tidak pernah mencapai berat tubuh ideal. Mungkin kalau saya seorang wanita, akan sangat berbahagia karena tidak perlu takut gemuk walaupun banyak makan. Aku cukup sering mengikuti cerita yang ada di 17Tahun sekedar mengisi waktu luang saja karena sibuk. O ya, dalam cerita ini sebut saja nama saya Ryo.

Bulan desember 2001, saya mengambil cuti selama seminggu untuk menikmati perjalanan wisata. Maklum untuk melepas rasa lelah dan stress setelah bekerja sepanjang tahun dan termasuk hobby saya juga untuk sering bepergian ke suatu tempat yang tidak pernah saya kunjungi tetapi mempunyai teman yang tinggal di tempat yang akan saya kunjungi. Setelah bersusah payah selama 2 hari (maklum lagi holiday season) akhirnya saya mendapatkan tiket ke Medan.

Lalu saya SMS Melia di Medan, “Besok gue mau ke Medan. Bisa jadi guide gue gak nih?”
Tidak berapa lama langsung dibalasnya, “OK. Datang saja. Pasti lu juga bercanda. Dari dulu katanya mau datang tapi gak pernah datang. Hehehehe”.
Setelah cukup lama ber-SMS ria dengan tetap saja dia tidak percaya akhirnya saya putuskan untuk memberikan kejutan saja besok siang kalau sudah sampai di Medan. Melia, 23 tahun, berkulit agak putih sama seperti warga keturunan lainnya dengan tinggi sekitar 158 cm. Kami berkenalan lewat chatting di internet selama hampir 1 tahun tetapi tidak pernah bertatap muka langsung. Hanya melakukan kontak SMS, email dan chatting saja. Walau tidak pernah ketemu kami tetap bisa menjalin hubungan antara teman dan kadang-kadang juga bertukar foto, jadi masing-masing paling tidak mengenal wajah jika saling ketemu.

Akhirnya besoknya saya berangkat ke Medan dengan mengambil penerbangan pertama Jakarta–Medan. Selama hampir 2 jam, 15 menit kemudian pesawat mendarat di bandara Polonia, Medan. Setelah membereskan barang bawaan saya, saya langsung memesan taksi untuk mengantarkanku ke salah satu hotel yang ada di Medan dan segera check in, lalu saya menelepon Melia.
“Hello, Mel? Dimana lu?”
“Ryo? Gue lagi jalan-jalan di Thamrin Plaza. Emang kenapa? Mau ikut?”
“Wah kalo boleh sih mau dong. Tapi minta dijemput boleh gak? gue gak tau jalan di sini”
Terdengar suara dengan nada yang agak tidak percaya.
“Emangnya lu ada di mana? Medan? Bisa bercanda aja lu. Boleh deh gue jemput kalo lu di Medan. Hahahaha..”
“Benar lho. Ditunggu. Awas kalo nggak datang. Ke Novotel kamar 313.”
Masih dengan nada suara yang tidak percaya.
“Yang bener? Gue gak percaya ..”
“Bener! Kalo nggak percaya telepon aja ke resepsionis Novotel, tanya nama yang check ini kamar 313. Sini cepat!”
“OK. Awas kalau lu boongin gue”

Setengah jam kemudian terdengar bunyi bel. Dag dig dug juga hati saya, soalnya saya belum pernah ketemu Melia secara langsung. Ketika pintu saya buka, wow, sepertinya saya bertemu bidadari yang turun dari langit. Tidak kusangka Melia yang saya kenal selama ini lewat chatting bisa secantik ini padahal di foto yang dia kirim biasa-biasa saja. Dengan rambut sebahu, wajah yang oval dan bibir seksi yang dihiasi lipstik tipis serta bau parfum yang semakin menambah keanggunan dirinya. Saking cantiknya sampai saya terbengong menatapnya.

“Ryo?” tanya Melia membangunkan saya dari lamunan.
“Iya ya ya?”, jawabku sekenanya saja.
Untuk menghilangkan rasa gugup saya langsung saja kujulurkan tanganku untuk menyalaminya dan balik bertanya.
“Melia?”, dan langsung disambutnya tanganku.
Ternyata tangannya juga halus. Tangan cewek sih. Pasti dirawat dengan baik.
“Akhirnya kita ketemu juga ya”, kataku membuka pembicaraan setelah Melia kupersilahkan masuk.
“Iya, gak sangka juga kalo lu nekat ke Medan”
“Abis udah hampir semua propinsi di Indonesia sudah pernah saya kunjungi. Cuma Medan yang belum termasuk Danau Tobanya. Hehehehe”
“Emang mau berapa lama lu mau di sini?”
“Seminggu aja. Kurasa cukup kan gue menikmati suasana di sini?”
“Cukuplah. Lagian tempat nongkrong di Medan dikit.”
“Ok deh. Lu jadi guide gue ya?”
“OK”

Setelah ngobrol cukup lama Melia minta pulang istirahat dan besok akan menemani saya jalan-jalan di Medan. Besoknya pagi-pagi Melia sudah mengajak saya keliling kota Medan. Ternyata cuma butuh 2 hari saja, seluruh tempat wisata di dalam kota sudah saya kunjungi dan cuti saya tinggal 4 hari lagi. Ternyata di hari ke-3 Melia mengajak saya ke Danau Toba dengan tour. Katanya belum terasa ke Medan kalo tidak ke Danau Toba. Saya sih ok–ok aja. Perjalanan dari Medan ke Toba lewat Tebing Tinggi dan Pematang Siantar membutuhkan waktu 5 jam lebih. Dari siang berangkatnya, jadi sore sampainya di Prapatan. Belum lagi untuk pergi ke Pulau Samosirnya dan pukul 6 sore baru sampai di sana, lalu check in ke kamar.

Setelah makan malam bersama rombongan tour, kami berdua akhirnya kembali ke kamar. Di kamar hanya tinggal kami berdua, ngobrol dan minum bir ringan. Jam sudah hampir menunjukkan 11.30 malam ketika keheningan melanda pembicaraan kami berdua. Semua topik sudah habis dibahas untuk malam itu. Untuk itu kutekan saja remote control TV. Wow, ternyata adegan yang muncul adalah blue film dan bukanlah berita gosip semata bahwa banyak hotel menyediakan blue film untuk tontonan tengah malam. Maunya langsung saya memindahkan saluran itu tapi dicegah oleh Melia.

“Nonton aja kalau mau. Gue gak apa-apa kok”, katanya dengan nada cuek.
Wah ini anak apa udah biasa nonton yang begituan, pikir saya. Ya saya biarkan saja film itu terus berlanjut dengan seorang cewek jepang digenjot seorang bule dari belakang. Doggy style kata orang. Bunyi desahan dari sang cewek dan lenguhan sang cowok memenuhi keheningan ruangan kamar kami berdua. 15 menit kemudian gaya mereka berganti menjadi missionary style. Gaya yang umum dengan cewek tidur terlentang dengan kaki menjepit pinggang cowok dan cowok menindih dari atas. Hanya kaki sang cewek yang berpindah–pindah dengan gaya ini kadang menjepit pinggang cowok kadang diangkat ke atas pundak sang cowok.

Saking seriusnya saya menonton, tidak tahunya ternyata Melia sudah terangsang berat karena film itu. Ketika saya berbalik, pakaian bagian atasnya sudah setengah terbuka dan dia sendiri menggesek-gesekkan tangan ke daerah kemaluannya. Desahannya masih agak tertahan mungkin karena saya ada di sana. Terkejut juga saya dengan aktivitasnya. Maklum dengan umur segini saya tidak pernah melihat bagian sensitif cewek secara langsung paling juga lewat film sama majalah saja, apalagi melakukan kegiatan hubungan intim dengan lawan jenis.

“Ryoo, uuh, bisa bantuin gue gak? uuhh..”, lenguhannya sedikit mengeras.
Kutelan ludah sendiri dengan pemandangan di depan mataku. Tidak tahu harus berbuat apa saya.
Lalu kutanya balik, “Bisa kubantu apa?”.
“Bantu puasin gue Ryo, ayolah Ryo, kemari, uuhh”, ujarnya dengan tangan kiri tetap menggosok bagian kemaluannya yang masih terbungkus celana dalam putih dan kelihatannya sudah basah serta tangan kanan meremas payudara sebelah kanan yang terbuka.
Dengan hati yang berdebar-debar dan kaki serta tangan gemetaran kudekati Melia. Dia kelihatan masih tenang dan masih bisa tersenyum melihat tingkah laku saya yang kikuk dan serba salah walau dalam keadaan terangsang berat. Dalam darah saya juga terasa berdesir dan kemaluan saya terasa mulai menegang. Benar-benar pengalaman yang mendebarkan.

Belum sampai 3 langkah saya mendekat, tangan saya sudah ditarik Melia ke arahnya. Dan langsung mulut saya dilumatnya dengan penuh nafsu.
“Uuuhhmm, uuhhmm”, tersumbat sudah suara yang mau keluar dari mulutku.
Baru pertama kali ini saya dicium seorang cewek. Cewek yang cantik dan penuh dengan nafsu sampai terasa sulit bernafas. Selama hampir 5 menit kami saling berciuman tanpa lepas. Semula tangan saya yang diam mulai dituntun Melia untuk meremas payudaranya dan lenguhannya semakin menunjukkan bahwa Melia sudah benar-benar terangsang dan melupakan lingkungan sekitarnya. Mungkin yang ada di otaknya adalah bagaimana mendapatkan kepuasan, kepuasan biologis. Diberi angin seperti itu saya yang semula pasif mulai berlaku aktif. Kulepaskan tali piyamanya dan terbukalah tubuh bagian atas Melia yang putih bersih dengan sebuah cup BH yang telah terbuka. Tidak puas, lalu kubuka kait BH dan mencuatlah kedua payudara yang biasa disebut bukit kembar yang sangat sangat menantang, ukuran 32B dari ukuran BH-nya yang dipakai. Payudara yang benar-benar terawat dengan baik, putih dan puting yang kemerah-merahan.

“Ayo Ryo, puasin gue, hisap dong”, katanya sambil menuntun tangan dan kepalaku ke arah bukit kembarnya.
“Uuuhh, oohh, terus Ryo, terus, uuhh..”
Kucium dan kuhisap terus kedua bukit itu secara bergantian dari kiri ke kanan. Sedangkan kedua tangan Melia terus meremas rambutku dan menekan kepalaku ke bukit kembarnya sampai sulit bernafas juga saya.
“Ooohh Ryo, hisap yang kuat, aahh, oohh.. come on baby, ohh”, ujarnya sambil mempermainkan kedua bukitnya.
Tangan kananku dituntun Melia untuk mulai meraba dan menggesek-gesek kemaluannya, celana dalamnya benar-benar sudah basah sebelum akhirnya kutarik lepas. Dan Melia sekarang dalam keadaan polos tanpa apapun yang melekat di tubuhnya.

Hampir 10 menit saya mempermainkan kedua bukit itu sampai akhirnya Melia mengangkat kepala saya dan meminta saya berhenti.
“Sekarang giliran gue untuk memberimu kenikmatan Ryo..”
Belum sempat saya berkata apapun saya sudah ditelentangkan di tempat tidurku dan Melia mulai melucuti pakaian tidurku satu per satu hingga tinggal celana dalam saja.
“Wow burung lu lumayan juga. Sini saya belai dulu biar jadi perkasa..”.
Ketika tangannya baru menyentuh kemaluanku, sudah terasa ada getaran yang mendebarkan, tetapi masih terganjal celana dalam sehingga belum terasa lepas. Baru pertama kali pula kemaluan saya dipegang oleh seorang cewek. Setelah menggosokkan tangannya beberapa kali, celana dalam saya langsung ditariknya lepas dan bebas sudah ganjalan celana tadi.

“Lumayan, lumayan, gak terlalu buruk untuk cowok seperti lu yang agak kurus”
Nggak tahu itu sindiran atau pujian. Berdiri sebentar, Melia lalu menunduk dan, apa yang dilakukannya, Melia menjulurkan lidahnya ke ujung kemaluanku. Sensasi yang terasa pertama kali sungguh tak terlupakan. Sulit untuk melukiskan perasaan saya saat itu.
“Uuhh..”, hanya kata itu yang keluar dari mulutku.
Melihat keadaan saya yang demikian semakin membuat Melia bisa mengatur tempo untuk memberikan sensasi buat saya. Mula-mula hanya ujung lidah dan kemaluan sampai akhirnya hanya pangkal kemaluan saya yang nampak setelah Melia melakukan oral seks untukku. Mulutnya maju mundur dan berputar lidahnya di kemaluan saya, sedang saya hanya bisa melenguh. Lenguhan kenikmatan yang tiada tara sampai akhirnya saya merasakan sesuatu yang mendesak ingin keluar dari kemaluanku.
“Mel, aku, ohh, mau keluar, uhh, oohh”
Mendengar itu Melia semakin mempercepat tempo sampai akhirnya, “Mel, keluar Mel, oohh, Mel, aahh”
Ditelannya habis semua air maniku tanpa sisa.

Kemaluanku langsung lemas, dan Melia tersenyum padaku.
“Ryo, kamu lumayan, nggak kalah dengan yang lain, minum ini dulu lalu nanti kita lanjutan”
Disodorkannya minuman yang dibawa di tasnya. Saya tidak tahu apa itu tapi saya minum saja. Baru 10 menit terasa tenaga saya jadi pulih lagi dan kemaluan saya mulai menegang lagi.
“Nah lihat tuh, kita bisa mulai fase kedua nih Ryo..”
Melia lalu tidur telentang dengan kedua kakinya terjulur ke lantai.
“Sini dan sekarang giliran lu”

Saya menghampirinya lalu dituntunnya kepala saya ke kemaluannya. Baru pertama kali pula saya melihat dari dekat kemaluan cewek. Lalu disuruhnya menjilat. Mulanya enggan juga saya. Tapi akhirnya mau karena kemaluannya kulihat terawat bersih dan rapi. Ada bau sedikit amis tapi khas wanita dan cairan putih bening keluar dari sana. Kujilat klitorisnya dulu.
“Uuuhh, that’s right Ryo, terus, oohh, uuhh, uuhhmm”, lenguhnya.
Sementara saya terus melakukan aktivitas di kemaluannya, kujilat dan kugigit kecil klitoris dan bibir kemaluannya sehingga lenguhan Melia semakin menjadi jadi.
“Ooohh, aahh, oohh, uuhh, terus Ryo, go on baby, oohh”
“Yeah, that’s so damn goodd Ryoo, oohh, aahh make me fly, oohh”, mendengar suara seperti itu semakin menambah rangsangan untukku.
“Ryo, now, now, masukin Ryo, oohh.. aku sudah pengen, aahh”, desahnya ketika kugigit kecil bibir kemaluannya.

Lalu kuatur posisiku dengan gaya missionary. Agak canggung juga karena ini adalah pertama kalinya saya melakukan hal ini. Melihat itu tangan Melia memegang kemaluanku dan menuntunnya ke arah kemaluannya. Mula-mula masih agak sulit karena saya agak gemetaran juga. Setelah beberapa menit mencoba akhirnya masuk juga.
“Uuuhh..”, terasa ada sensasi yang sedikit berbeda dibandingkan ketika dioral.
Terasa sedikit perih dan hangat ketika masuk. Lalu kulakukan penetrasi sedikit demi sedikit dan pelan.
“Ooohh, thank god, yes, uuhh, aahh oohh..”
Lenguhan Melia memang sangat merangsang. Setiap kemaluan saya masuk maka suara desah “Uuuhh..” keluar dari mulut Melia dan ketika kutarik yang keluar adalah “Aaahh..”.

Selama 10 menit kami berganti posisi. Sekarang adalah posisi Doggy Style, dengan bertumpu kepada kedua tangannya, Melia menikmati setiap genjotan dan hentakan saya dari belakang.
“Uuuhh, yees, yeess.. oohh yess.. oohh yess, come on Ryo..”
Suara pantat dan bagian tubuh bawah saya beradu menimbulkan bunyi tepukan. Pantat Melia yang begitu padat berisi, menambah rasa gemas saya untuk terus meremasnya. Belum cukup juga saya dalam posisi ini, saya tetap berusaha untuk meremas kedua payudaranya dan beradu mulut dengan tetap mempertahankan irama genjotan saya. Aku tidak tahu apa yang telah diberikan Melia kepada saya sehingga saya bisa bertahan begitu lama.
“You, oohh are aahh greaat Ryoo, oohh, aahh, oohh, aahh..”
Kemaluan Melia yang masih terasa sempit semakin menambah terus nafsu saya untuk terus mengenjotnya. Mungkin saya tidak tahu akau adalah orang ke-berapa yang ML dengannya, tapi ini memberikan saya pengalaman luar biasa yang tidak akan saya lupakan.
“Ooohh Mel, lu juga heebbaatt, aah, oohh, uuhh, kemaluanmu masih kencang dan sempit, aahh, oohh oohh, Mel”

Setelah hampir 20 menit kemudian, baru terasa ada yang mau keluar.
“Mel, aku, aku mau keluar, oohh, uuhh..”
“Iya.. genjot la..ggii Ryo, aakkuu juga mau keluar, uuhh aahh”
“Di dalam atau di luar nihh, oohh”
“Da.. lam saja biar terasa, jangan kuuaatiir, oohh”
Saya semakin mempercepat gerakan maju mundur dengan diimbangi gerakan Melia juga. Suara kecipak semakin memenuhi ruangan kamar.
“Aaakkuu keelluuar, aahh aahh..”
“Aaakkuu juga, Ryoo.. oohh..”
Hentakan terakhir, kudorong dalam-dalam kemaluan saya ke dalam kemaluan Melia yang diikuti dengan gerakan punggung Melia melengkung ke bawah dan dengan kepala mendongak ke atas pertanda dia juga telah mengalami klimaks. Tanganku masih memegang pinggang Melia. Masih bertahan 1-2 menit dalam posisi doggy style sebelum akhirnya Melia meletakkan badannya ke bawah dan telungkup dan saya mencabut kemaluaan saya lalu mendekapkan badan saya ke Melia dan membisikkan kata mesra.
“Lu hebat Mel. Saya jadi suka dan sayang sama lu.”
“Terima kasih Ryo, lu telah memberikan kepuasan yang telah saya dambakan selama ini”
“Kembali Mel, dari lu gue telah belajar sesuatu yang hebat..”
“Saya juga suka sama kamu, makanya saya tidak segan untuk melakukan ini denganmu, Ryo. Dan apa yang kita lakukan ini hanya suka sama suka. Just a friend, OK?”
Agak kaget juga saya mendengarnya tapi masih bisa kukuasai diriku.
“Ok mel, we always be a friend”
Akupun membelai mesra dia sampai akhirnya kami berdua tertidur tanpa sehelai benang pun.

Keesokan harinya kami kembali menikmati perjalanan wisata, hanya saja dengan keadaan yang sedikit lebih mesra setelah apa yang kami alami semalam. Sampai akhirnya waktu cuti saya habis di Medan dan pulang kembali ke Jakarta. Di hari kepulangan saya, Melia tetap mengantarku ke bandara untuk pulang ke Jakarta. Melia sekarang melanjutkan studi ke Amerika dan aku tidak tahu kapan ia akan kembali. Melia, Melia, i always remember what you have tought me! Tidak rugi perjalanan saya kali ini ke Medan. Sangat sangat special jika dibandingkan dengan semua perjalanan wisata saya selama ini.
Share:

Sabtu, 06 Mei 2017

" Sahabat Lama "


Kali ini menceritakan pengalaman Sex dari seorang Lelaki yang bernama Arman.
Arman yang bertemu kembali dengan sahabat wanita-nya yang bernama Arin mereka melepas kangen mereka dengan bersetubuh di kantor Arin. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.

Panggil saja namaku Arman, aku disini aku akan mengukirkan sebuah cerita sex saya dengan sahabat wanitaku yang cantik, bertubuh putih mulus dan sexy yang bernama Arin. Sudah lama sekali aku dan Arin tidak bertemu setelah kami sama-sama sudah menikah. Sekitar 3 tahun kami tidak bertemu sampai kini kami bertemu lagi dengan posisi Arin yang sudah janda. Berawal dari iseng-iseng aku membuka facebook ku, aku-pun mencari Arin dari salah satu media sosial itu.

Beberapa menit aku mencari dia di pencarian teman, pada akhirnya aku menemukannya dengan nama account Arin Permatasari. Karena sudah menemykan pada akhirnya akupun mengirim inbox kepadanya, tidak kusangka 1 meini t setelah itu dia membalas dan memberikan momer handphone-nya. Karena aku sangat kangen sekali maka aku-pun langsung menelfonya dan meminta untuk bertemu denganya.

Dulu kami memang sangat akrab sekali, bahkan saking akrabnya kami dulu pernah melakukan hubungan sex walaupun berstatus sebagai sahabat. Aku dan Arin-pun tahu apa yang kami suka dalam hal hubungan sex, dari mulai posisi sex apa dan bagaimana kesukaan kami ketika kami saat bersetubuh. Saat itu Arin meminta aku untuk menemuinya di kantor Arin pada hari sabtu pada siang hari sekitar jam 14.00, karena ada pekerjaan yang harus diselesaikannya pada hari itu.

Singkat cerita hari itu-pun tiba dan aku pergi kekantor Arin yang lokasinya terleletak di jalan Fatmawati, Jakarta. Kebetulan sekali karena hari itu akhir pekan, sebagian besar karyawan perusahaan dijakarta rata-rata tutup. Hanya kantor Arin lah yang buka, dan sesampainya disana aku melihat hanya ada Arin. Saat itu karyawan lainya sudah pulang, karena pada waktu itu memang hanya masuk setengah hari dan hanya Arin yang tersisa.
Pada saat itu ketika aku datang, Arin yang menyambut langsung lalu membukakan pintu dan menyambutku dengan penuh keceriaan.

Demikian-pun dengan aku, walaupun sempat terpana sebelumnya melihat dirinya yang semakin cantik, sensual dan sexy, apalagi dengan penampilannya siang itu yang mengenakan atasan kemeja dengan dilapisi blazer, bawahan rok mini ketat diatas lutut dan sepatu hak tinggi yang menampakkan kakinya yang indah. Kaki Arin sungguh indah dan mulus, ditambah lagi dia masih seperti dulu dengan ciri khas bodynya yang mungin namun sintal.

Beberapa saat aku terpanah oleh keindahan tubuhnya, ditengah pandanganku itu Arin-pun berkata,

“ Man, aku selesaikan pekerjaanku dulu ya, habis itu baru kita hangout, okey… ”, ucap Arin sembari mengajakku ke mejanya.

Setelah itu aku dipersilahkan duduk di kursi samping meja kerjanya, sembari Arin mengerjakan pekerjaanya kami-pun mengobrol. Melihat Arin yang sedang mengerjakan tugasnya aku-pun menawarkan untuk memijatnya,

“ Rin kamu aku pijitin yah, biar enak ngerjain kerjaanya ”, Ucapku lalu bergegas berdiri di belakang kursinya bersamaan dengan hinggapnya kedua tanganku di pundaknya untuk memijat.

“ Eummm, enak sekali yah pijatan kamu Man, udah lama sekali aku nggak kamu pijat, hhe… Jujur aku aku kangen banget sama pijatanmu Man ”, ucap-nya manja sembari mngerjakan pekerjaanya.

“ Ah yang bener, ngomong-ngomong kamu kangen juga nggak sama kecupanku ? ”, ucapku sembari dengan ciumanku pada telinga-nya.

Ketika aku mencium telinga-nya, saat itu Arin langsung menggeliat kegelian, apalagi waktu krah kemejannya agak kusingkapkan dan ciumanku mulai menuju ke leher dan tengkuknya yang mulus dan wangi itu. Sungguh aroma tubuhnya harum alami, akhirnya aku bisa merasakan lagi setelah sekian lama aku tidak bertemu dengan Arin,

“ Oughhh… Sssssss… geli Man… Aghhh… ternyata kamu nggak berubah yah Man sama seperti dulu… Oughhh…” desahnya diiringi ucap nikmatnya lalu dia mematikan komputernya.

“ Kayaknya kita nggak perlu keluar dari sini deh, sebentar ya, aku kunci dulu pintu depannya,” ucap-nya lagi.

Agak lama Arin mengunci pintu depan, dan waktu balik ke ruang kerjanya, mataku terbelalak melihat Arin hanya tinggal mengenakan blazer merahnya yang terkancing seadanya tanpa apa-apa lagi di dalamnya. Tanpa bicara, Arin langsung menggandengku menuju ruang meeting kecil yang hanya berisi meja bulat dan beberapa kursi,

“ Man, aku kangen banget merasakan kehangatan tubuhmu Man,” ucap-nya lagi.

Sesampainya ruang meeting itu aku-pun bergegas membuka pakaianku. Lalu Arin-pun mendekatiku dan tiba-tiba melumat bibirku yang langsung kusambut dengan meneroboskan lidahku dan menari-nari di dalam mulutnya sambil kadang-kadang mengulum lidahnya. Begitu aku telanjang total, Arin meyuruhku duduk di kursi meeting, sementara dia ambil posisi berdiri dihadapanku sambil pelan-pelan membuka kancing blazernya dengan gaya erotis.

Setelah itu, disingkapnya masing-masing ke samping sehingga muncullah pemandangan yang amat indah. Buah Payudara-nya yang ranum, bulat, dan padat dengan pentilnya yang merah muda itu nampak mencuat menantang, apalagi dengan tubuhnya yang makin basah oleh keringat sehingga kulitnya yang mulus makin berkilat. Belum lagi aku terkagum-kagum melihatnya, Arin langsung duduk dipangkuanku.

Saat itu posisi dia mengangkangkan pahanya bertumpu di pegangan tangan kursiku sehingga posisi buah Payudara-nya tepat persis di mukaku,

“ Udah lama kamu nggak menyantap payudaraku, ayo dong isep Man”, ucap Arin menggodaku.

Kemudian Arin-pun meneruskan melepas blazernya dan menaruh kedua tangannya ke atas senderan kursiku dan menyodorkan Payudara-nya hingga kepalaku terbenam di antara dua bukitnya yang kenyal itu. Torpedo-ku mulai berdiri lagi dengan perlakuannya ini, apalagi aku bebas menghirup aroma tubunya yang bercampur antara parfum dan keringatnya itu. Muncul ideku untuk bermain-main dulu.

Aku menciumi lehernya yang jenjang dan terus ke belakang telinganya. Arin menggeliat kegelian dan membuat hidung dan bibirku menjalar ke ketiaknya yang halus bersih itu, setelah sebelumnya menelusuri lengannya yang lembut. Disitu kuciumi sepuas-puasnya dan kujilat-jilat seputar ketiaknya yang merupakan salah satu kesukaannyaa juga. Kegeliannya membuat kepala Arin menengadah kebelakang sehingga buah Payudara-nya siap dilumat dengan mulutku.

Mulailah aku menjilati dari bawah buah Payudara-nya, terus kesamping dan berlama-lama di seputar putingnya yang makin mengeras, Saat itu Arin tidak sabar lalu mendorong putingnya ke mulutku. Tanpa pikir panjang akupun langsung menyaambut dengan jilatan panjang, gigitan kecil dan hisapan-hisapan lembut di putingnya. Saat itu tubuhnya semakin menggelinjang ketika tanganku mulai beraksi mengusap-usap selangkangannya yang ternyata sudah basah dari tadi.

Kini jariku-pun mulai menyusup ke memek-nya dan kugosok-gosok clitorisnya. Tidak Cuma itu, jari-jariku mulai menerobos masuk ke memek-nya. Dengan paha yang terbuka bebas dengan gerakan maju-mundur yang makin lama makin cepat aku memainkan memek-nya, lalu,

“ Oughhhh… Man, udah Man geli… Aghhhh…. ”, desah Arin.

Saat itu badannya mengejang sembari mendekap erat mukaku di buah Payudara-nya sampai aku sulit bernafas, sementara jariku merasakan hangatnya cairan dari memek-nya. Rupanya Arin baru saja mencapai klimaksnya dengan posisi kedua pahanya yang masih mengangkang dan masing-masing bertumpu pada sandaran tangan kursiku. Tubuhnya lalu kuangkat dari kursi dan kurebahkan di meja bulat di depanku.

Kini dengan posisi tubuh di meja dan kakinya menjuntai ke bawah Arin-pun beristirahat sebentar untuk mengembalikan stamina-nya. Sementara Arin yang sedang menghela nafas, aku sediri kembali di kursi untuk mengangkat kedua kakinya dan melepas sepatu hak tingginya. Kemudian setelah itu aku memposisikan kaki Arin di pangkuanku sembari kupijat dengan lembut dari ujung kaki hingga betisnya.

Saat itu aku memaandang sejenak kakinya yang putih mulus dengan jari-jari kakinya yang rapi dan tanpa kutek itu serta betisnya yang ramping berisi. Arin menikmati sekali pijatanku, bahkan waktu kugantikan tugas tanganku dengan bibirku yang menelusuri seluruh permukaan kulit kakinya,

“ Ssssssss… Aghhhh… geli sayang, Oughhh… ” desahnnya.

Saat itu Arin terlihat pasrah menyerahkan kakinya untuk kuciumi dan kujilati dari mulai tumit, telapak kaki hingga jari-jari kakinya. Selain kumainkan lidahku, tak lupa aku mengkulum satu persatu jari kakinya yang kutahu hal itu adalah kesukaanya. Saat itu aku melihat Arin menikmati sekali permainanku ini. Sampai-sampai posisi kedua kakinya jadi tak beraturan karena menahan geli dan nikmat akibat perlakuanku.

Dengan masih terus kucumbui kakinya, saat itu pahanya mulai terbuka sedikit, sehingga satu tanganku bisa bebas menjamah kemulusan paha dan selangkangannya. Puas dengan kakinya, kulanjutkan ciumanku ke atas menelusuri betisnya yang indah, bagian dalam lutut, dan pahanya. Sempat kukecup-kecup lembut kedua paha dalamnya sambil tanganku terus menjelajah ke memek-nya.

Arin menggelinjang, tapi tanpa sadar malah memajukan duduknya ke pinggir meja dan kedua kakinya dikangkangkan ke masing-masing ujung meja, sehingga selangkangannya makin terbuka lebar membuatku makin bernafsu.Tanpa tunggu lagi, kupindahkan mulutku ke memek-nya yang nampak basah, dan kedua tanganku menjamah buah Payudara-nya di atas. Jilatan-jilatan dan isepan-isepanku di memek inilah yang paling disukai Arin.

Dari menyusuri liang senggamanya, kuarahkan kemudian lidahku ke clitorisnya dan kumainkan dengan ujung lidahku hingga Arin mengerang hebat. Tak cuma itu, clitorisnya tak luput juga dari kuluman bibirku yang semakin liar,

“ Man, lidah kamu dikerasin yah dan jilatnya lebih cepat lagi yah… Oughhh…”, ucap Arin meminta sembari tangannya menekan kepalaku ke arah Memek-nya.

Aku mengerti maksud Arin, dia meminta lidahku dikeraskan agar seolah lidahku seperti Torpedo dan ditarik maju-mundur ke liang memek-nya. Arin meronta-ronta, apalagi ketika clitorisnya kujilat berulang-ulang lalu kujulurkan lebih dalam menembus liang memek-nya bersamaan dengan makin cepatnya gerakan maju-mundur pinngul Arin, dan,

“ Oughhhh… Ssssssss…. Aghhhhhh… ”, desahnya dengan tubuhnya yang melengkung dan mengejang.

Saat itu kepala Arin direbahkan kebelakang dan kedua pahanya dirapatkan sehingga menjepit kepalaku yang masih berada di selangkangannya sambil tangannya terus menekan kencang. Tanpa istirahat lagi, dengan cepat aku berdiri dari kursi lalu mengangkat kedua kakinya tinggi ke atas dan kutumpangkan masing-masing di pundakku, sehingga posisi Torpedo-ku tepat berada di depan liang memek-nya yang persis berada di pinggir meja,

“ Oughhh… Enak sayang, terusin sayang… Aghhhh… ”, teriak Arin begitu Torpedo-ku yang tegak keras bak meriam masuk lurus ke liang memek-nya.

Saat itu juga aku langsung menggerakkan maju-mundur pinggulku yang membuat Arin menjerit-jerit kecil karena menahan geli, setelah mencapai klimaks sebelumnya. Pinggulnya diputar-putarkan mengimbagi gerakan Torpedo-ku yang makin lama makin cepat bergerak maju-mundur. Arin makin pasrah waktu pergelangan kakinya kupegang dan kukangkangkan ke samping sambil terus menggenjot memek-nya.

Baru sebentar Arin tak tahan, dan lebih memilih melingkarkan kakinya ke pinggangku sambil terus menggoyang-goyang pinggulnya. Kesempatan ini kupergunakan dengan merapatkan badanku ke tubuhnya yang indah itu, dan dengan tak henti menggenjot memek-nya, bibir dan tanganku ikut bekerja. Tanganku meremas gundukan Payudara-nya yang ranum, dan bibirku merajalela di wajah dan lehernya.

Torpedo-ku menghujam makin cepat ke liang memek-nya, tidak lupa tanganku menahan kedua tangannya dan bibirku kuturunkan ke putingnya untuk kujilat dan kukulum habis-habisan. Setelah beberapa saat aku dan Arin merasakan tubuh kami mengejang, dan,

“ Oughhh… Crottttttttt…Syurrrrrrr… Crottt… Crotttt…. ”,

Pada akhrinya kamipun orgasme bersamaan. Air mani dan lendir kawin Arin bercampur menjadi satu pada liang senggama Arin. Pasa saat itu ke 2 kaki Ain sangat kencang menghimpit pinggangku, dan tangannya beralih menekan kepalaku ke buah Payudara-nya. Setelah kami mendapatkan klimaks kami, saat itu kami sejenak terdiam untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan persetubuhan kami.

Walaupun ruangan itu ber AC, pada asaat itu tubuh kami dipenuhi keringat yang mengucur deras hingga membasahi meja meeting itu. Setelah puas menikmati sisa-sisa persetubihan kami, aku-pun melepaskan kejnatananku dari liang senggama Arin, kemudian aku memandangi tubuh Arin yang indah mulus itu terlentang di atas meja. Nampak wajah Arin yang sensual itu masih tersenyum puas, dan membuatku gemas.

Lalu aku mulai lagi menjelajahi seluruh lekuk liku tubuhnya dengan jilatan-jilatan nakal, Arin cuma bisa menggelinjang pasrah dan dengan manja berkata,

“ Coba aja kamu bisa setiap hari i ke kantorku pasti aku senang sekali Man ”, ucapnya.

Saat itu akupun hanya tersenyum tanpa menjawab. Saat itu karena kami berada dikantor Arin kamipun segera membersihkan diri dengan tisu basah milik Arin, dan kemudian kami memakai pakaian kami kembali. Setelah kami mengenakan pakaian kami, kamipun segera meninggalkan kantor Arin dan sekalia Hangout. Selesai.
Share:

Minggu, 30 April 2017

" Ada Yang Salah Dengan Keluarga Ini "


Keingat jaman dulu waktu kecil aku sering melihat kedua orang tuaku menonton film porno di ruang
keluarga, saat itu siang malam di putar terus film pornonya mereka cuek walaupun ada anak anaknya di
sekitarnya, sempat juga aku menemui orang tuaku saat dia nonton filmdan terangsang mereka langsung
bersetubuh di tempat itu.

Semua pembantu yang ada di rumah sudah paham sifat nyonya dan tuan jadi tidak heran bila ayah dan
ibuku sedang ngentot pembantu masuk di ruangan, pembatu yang ada di rumahku ada 4 yang mana kesemuanya
adalah wanita. Karena aku dan adiku sewaktu masih usia SD karena masih polos menganggap itu adalah hal
yang wajar dilakukan oleh seorang ayah dengan ibu.
Ketika aku pulang sekolah (aku sudah kls 1 SMP sedangkan adikku kls 6 SD )aku melihat kontol ayahku
sedang dihisap oleh salah seorang pembantuku dan disamping ayahku ada ibuku yang bertelanjang dada
memperhatikan sambil kadang-kadang berciuman dengan ayahku. Aku agak sedikit heran tapi.. ah mungkin
hal yang biasa pikirku.
“Pa.. kok sudah pulang dari kantor” kataku.
Ayah dan ibuku kaget. “Eh.. sayang sudah pulang… bagaimana ujiannya?” tanya ibuku.
“Lumayan lah.. ngga jelek” kataku.
Aku langsung duduk di samping ibuku yang sedang bertelanjang dada itu.
“Sana makan dulu Ted” kata ayahku.
“Sudah Pah… tadi ada temen yang nraktir” kataku sambil tetap menatap pembantu kami yang bernama Dewi
sedang menghisap kontol ayahku.
“Lagi ngapain sih ma..?” tanya ku.
Ibuku hanya tersenyum saja.
“Sudah Tuan..?” tanya si Dewi mungkin dia agak canggung diperhatikan olehku.
“Belum dong Dewi….. sampe keluar maninya.. kamu ini ngga pernah beres kalo kerja” tegur ibuku.
Kulihat ayah ku.. beliau sedang merem melek sambil berdesis-desis… Ssshh.. hhhss.. ahh.. terus wi..
ahh.. shh. Aku jadi penasaran bagaimana sih rasanya.. kok seperti yang nikmat betul.
“Ma Teddy mau donk digituin kaya Papa” pintaku pada Mama.
Mama tersenyum “Sini buka celanamu” perintah Mama.
Aku langsung membuka celana dan menyodorkan kontolku pada Mama. Mama langsung menhisap kontolku dengan
lembut dan tangannya kirinya memegang biji pelerku. Aku kontan merasakan nikmat2 geli.
“Ahh… sshh.. Ma geli Ma… ssh ahh” tapi Mamaku tetap saja menghisap kontolku lebih dalam lagi. Aku
melihat Papaku sedang berusaha memasukan kontolnya ke dalam memek si Dewi.
“Lho kok Papa keterusan sih..” kata ibuku sambil tersenyum dan tangannya masih saja mengocok-ngocok
kontolku.
“Tanggung sih ma…” Kata Papaku.

Kulihat si Dewi merem melek menerima hujaman kontol Papaku sambil sesekali menggoyangkan pantatnya.
Tiba-tiba si Dewi memeluk erat pingang Papaku dan Papaku mencengkram bahu si Dewi “…aduh tuan udah
mau keluar nih” erang si Dewi.
“Bapak juga mau ke…luarrr…” kata Papaku dan Crott.. crott.. crot.. air mani Papaku di semburkan ke
rahim si Dewi…. setelah itu mereka terkulai lemas dan tergolek bersama di karpet depan TV.
“Teddy mau ngga masukin anunya ke memek Mama..?” tanya Mamaku sambil tangannya tetap mengocok
kontolku, belum selesai dia bicara tiba-tiba.. Ahh.. ahh…… kontolku menyemburkan maninya sendi-
sendi ini terasa lemas jadinya.
“Yaaa… udah keluar… Mama kan belum di entot siang ini..” kata Mamaku kecewa.
Papaku tertawa..” nanti malem aja.. kamu dapat giliran penuh…” kata Papaku.
“Mammaa…” adiku ternyata sudah pulang diantar oleh Mang Ikin supir keluarga. Tenny langsung di sun
pipinya oleh Mama.
“Ma kok ngga pada pake baju sih?” tanya adiku itu.
“Ngga apa-apa.. cuma gerah aja” kata Papaku menimpali.
Malamnya ketika kami berempat sedang menonton sinetron aku dan adiku duduk dikarpet depan TV, sedang
Papa dan Mamaku di atas sofa panjang. Ketika aku menoleh ke belakang, kulihat Mamaku sedang duduk di
pangkuan ayahku sambil menyingkapkan dasternya dan terlihat jelas kontol Papaku diduduki oleh Mama.
Pantat Mamaku naik turun dengan disertai goyangan yang erotis. Lalu mereka pindah ke karpet dan
posisinya yaitu… ayahku berbaring sedangkan Mamaku di atas kontol Papa sambil menghadap ke arah
Papa.
Lalu Mamaku menaik turunkan pantatnya sambil disertai goyangan…. “ahh.. sshhh… ahh…” slleep..
sleep Sllepp…” Terus goyang Ma.. ahh.. sshh…”.
Aku dan adiku saling berpandangan…. memang hal seperti ini sudah tidak asing lagi dipertontonkan
kepada kami, tapi kami berdua sepertinya mempunya pikiran yang sama…. rasa penasaran akan rasanya.
Tiba-tiba si Emi salah satu pembantu masuk ke ruang keluarga… melihat tuan dan nyonyanya sedang
entotan tidak membuat si Emi canggung.
“Nyonya.. makan malam nya sudah siap” kata si Emi.
“Iya.. sebhen… thar.. sshh.. ahh” jawab ibuku.
Aku hanya tersenyum saja. Tiba-tiba aku ada ide.. aku mengeluarkan kontolku dari balik celana… lalu
minta si Emi untuk menghisap kontolku.
Si Emi kaget… “nanti Nyonya dan Tuan marah lho Den” jawab si Emi.
“Ngga ah.. saya harus menyiapkan dulu minum buat makan nanti..” kata si Emi sambil ngeloyor pergi
kebekalang. “Huh..” Aku bersungut-sungut. Tak habis akal.. aku menyodorkan kontolku ke mulut Mama yag
sekarang posisinya menunggin dan Papaku sedang menusuknya dari belakang.
Mamaku manyambut kontolku dengan mulutnya… aku merasa keenakan. Setelah kontolku memerah aku
mencabutnya dari mulut Mamaku dan posisi merekapun berubah lagi…. Mamaku kembali menduduki kontol
Papaku.
Papaku memegang pinggul Mama sambil sesekali meremas buah dada Mama.Mama lalu membungkukan badannya
untuk mencium bibir Papa.mereka berciuman dengan heboh…. hmmmpp… cpot.. cpot.. hmmp ashhh
…sssshhh… ahhh.. ashhh… aough…..
Aku bingung apa yang mesti dikerjain nih. lalu aku melihat lubang anus Mama.”Wah.. ada lobang yang
masih nganggur nih..” pikirku. Aku lalu memasukan kontpolku di anus Mama. Mama kaget.. tapi..” pelan-
pelan sayang …Ahhh… Sshh..” erang Mama.
Aku langsung saja mengocokan kontolku dilubang anus Mama. Ahh sshh… ahh….. terus sayang.. masukan
kontolmu… aahhh….. mmmhhh…
Mama terlihat menikmati tentu saja akupun enjoy banget. Tapi Papa tampaknya terganggu dengan gerakan
ku.
“Ted.. jangan masukin kontol di situ… Papa jadi kagok nih” Akupun mencabut kontolku dengan kecewa.
“Kak.. masukin di sini saja”. Tiba-tiba terdengar suara Tenny adiku dan diapun telah menyingkapkan
dasternya dan membuka celana dalamnya. Aku tersenyum… “Makasih ya Ten.. kamu adik yang paling
pengertian” kataku.
Sebelum sempat aku Mamasukan kontolku ke lobang memeknya Tenny Papa dan Mama menghentikan kegiatannya.
“Sini Mama bantuin” kata Mamaku, lalu dia mebimbing kontolku masuk ke memek Tenny.
“Tahan sedikit ya sayang..” kata Mamaku kepada Tenny. Lalu kontolku masuk perlahan-lahan .”Ahh..
Agh…. sakit ma..” jerit Tenny tertahan.
“Tenang sayang nanti juga enak..” hibur Mama, lalu Mama meremas-remas toket adiku itu yang masih
sekepal tangan.
“Gimana enak..?” tanya Mamaku ke Tenny. Adiku tidak menjawab hanya bibirnya mendesis ssshh..
aahhhh…. sshhh…. terus kak.. ssshhh.
Papaku tertawa.. “Wah udah keenakan dia” kata Papa.

“Ted..gantian donk..” pinta Papa.
“Waduh Papa.. ngeganggu aja nih” jawabku, lalu kita pun bergantian. Papa memasukan kontolnya ke memek
Tenny. Tenny menahan nafas ketika kontol Papa masuk ke lobang memeknya, ada sensasi yang luar biasa
memeknya dimasuki kontol yang lebih besar. Aku lalu tanpa buang waktu lagi kembali memasukan kontolku
ke anusnya Mama.
“Aaahhh….. ssshh…. terus sayang…… aahhhhh… ahhh….” erang Mamaku.
Lima belas menit kemudian kami berempat mengeluarkan air surgawi kami bersama. “aaaahhh………”
Sejak saat itu kami sering melakukan hubungan sex. Itu bisa terjadi antar aku dan Mama, aku dan Tenny,
Mama dan Papa, Papa dan Tenny. tidak jarang aku dan Papa menggarap para pembantu bersama.
Share:
WELLCOME TO OSEX39.BLOGSPOT.CO.ID

NEW AHLICASINO 2017


Entri Populer

Blog Archive

About Me

Total Tayangan Laman

HOT VIDEO